Loading
Perjalanan panjang yang penuh makna dalam mewujudkan visi dan misi kami.
Yayasan Don Bosco mengambil alih Panti Asuhan di Jl. Tidar Surabaya dan memulai langkah pertama mendirikan sekolah.
Tepatnya pada bulan April, Yayasan Don Bosco mengambil alih dari organisasi sosial "Boys Mess" sehingga pada September 1947 jumlah anak menjadi 174. Namun dalam proses pengambilalihan, gedung-gedung milik yayasan bukanlah hal yang mudah, karena reruntuhan dan inventaris banyak yang hilang. Bahkan beberapa barang banyak dicuri, ada sedikit keputusasaan dari Romo Direktur yang sudah mencoba memperbaiki namun nampaknya hanya sia-sia belaka. Ditambah lagi Pemerintah menyatakan bahwa gedung-gedung tersebut diperlukan untuk menampung para pengungsi dari desa-desa. Delapan bulan lamanya diadakan perundingan, dan atas jasa Tuan v.d Plas, Gubernur Jenderal Jawa Timur, Yayasan memperoleh izin untuk menempati kembali.
Departemen Pendidikan memberikan izin untuk membuka kembali sekolah dan taman kanak-kanak di Don Bosco.
Jumlah anak terus meningkat pada tiap tahunnya, sehingga tercatat pada akhir Juli 1948 jumlah anak mencapai angka 236. Pada tanggal 22 Oktober 1947, Departemen Pendidikan memberi izin untuk membuka kembali sekolah Don Bosco, dan pada bulan April 1948 Taman Kanak-kanak boleh dimulai lagi. Kedatangan Sr. Paula v.d Pol dan Sr. Walburga v.d Mortel pada 7 Maret 1948 menambah tenaga bantuan baru, disusul kemudian oleh Sr. Ludgera yang mulai membantu Taman Kanak-kanak. Di tahun yang sama, Sr. Paula menggantikan Sr. Andreas sebagai pemimpin Don Bosco.
Paroki menyetujui pembangunan SMP, dan sekolah diserahkan kepada Serikat Putri Kasih (Yayasan Santa Louisa).
Antara tahun 1948 hingga 1951 terjadi berbagai perubahan kepengurusan pada panti. Sebelum perang, kapel dipergunakan sebagai Gereja Paroki, namun seiring jumlah umat yang terus meningkat, dirasa perlu membangun Gereja Paroki dengan sebuah sekolah. Pengurus Yayasan menyetujui pembangunan sekolah milik paroki di lapangan panti. Karena keterbatasan biaya, pembangunan awalnya hanya mampu mendirikan satu kelas, namun berlanjut setiap tahun hingga lengkap menjadi 6 ruangan kelas di bawah kepemimpinan Sr. Mayella Savekoul. Pada tahun 1953, sekolah berkembang menjadi 3 jenjang dengan sekitar 1000 murid, sehingga SMP pun dibangun untuk menampung lulusan SD. Sekolah yang semula milik Paroki kemudian diserahkan kepada Serikat Putri Kasih (Yayasan Santa Louisa).